Tahukah Anda bahwa seekor domba tidak terbiasa untuk terbaring celentang ?
Kalau seekor domba terpeleset dan jatuh rebah ke sisinya, secara naluriah ia akan bergerak gerak untuk bisa berdiri di atas empat kaki.
Nah, dalam usaha gerak gerak ini, bisa saja ia berada dalam posisi salah, kemudian tergeletak tertelentang dengan empat kaki menghadap langit.
Mula mula ia akan mengembik embik.
Kemudian melenguh...dalam bahasa perdombaan, ia sedang " menangis "
Sesudah beberapa jam, akan terbentuk gas di rongga perutnya.
Gas ini menyusahkannya untuk bernafas secara normal.
Dalam tempo tak lama sesudah itu, domba malang ini akan tersenggal senggal kekurangan oksigen,
kemudian pelan pelan mati sesak nafas.
Saat seorang gembala yang baik menemukan domba malang ini, dengan perlahan sang Gembala akan membaringkannya miring.
Jadi, empat kakinya tak menghadap langit lagi.
Dengan lembut, keempat kakinya di urut dan pijat.
Ini berguna agar peredaran darah normal kemali.
Kemudian sang domba di bantu berdiri...dan sang Gembala akan tetap menahannya, sebab selama ia berbaring dalam posisi aneh itu, seluruh sistim keseimbangannya ngaco belo, dan bila tak di tahan saat
ini, sang domba akan " gusrak " jatoh lagi.....
Sesudah tenang, segar jiwanya dan seimbang, domba di lepas .
Inilah yang ditulis peMazmur dalam Mazmur fatsal 23
TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang;
Ia menyegarkan jiwaku........
Dalam hidup, kadang kadang kita terpeleset dan jatuh.
Dalam posisi tertelentang, sering kali kita tak berdaya.
Bagai domba menangis dana melenguh, kita mungkin juga melantunkan rasa salah....ngomel....pertanyaan atau rasa geram.....
Hanya Gembala yang baik yang bisa menolong.
Prosesnya sama.
Sesudah kita berdiri...IA tetap memegang, hingga keseimbangan kembali, untuk lanjutkan hidup ini.