Sepasang suami isteri miskin di Tiongkok, membesarkan puteri mereka satu-satunya, Ah Lin, dengan sepenuh hati.
Ah Lin disekolahkan dengan baik, menikmati gizi empat sehat lima sempurna, padahal ayah dan ibunya banting tulang luar biasa. Ah Lin bahkan disekolahkan ke Ibu Negeri dan lulus dengan gemilang.
Sesudah lulus, Ah Lin bekerja disebuah perusahaan perdagangan besar.
Otaknya encer, dalam waktu singkat ia naik pangkat terus, dan akhirnya berhasil masuk dalam lingkaran manajemen.
Pergaulannya jet set. Gaya hidupnya serba wah. Restoran terbaik, merek tas dan sepatu istimewa, bahkan ia berhasil tinggal di sebuah perumahan elit di kota besar.
Pepatah kakap cari kakap, dan Ah Lin pun berpacaran dengan putera seorang konglomerat di Ibu Negeri.
Kemudian, ayah dan ibunya datang dari kampung........
Mula mula semuanya baik baik saja.
Tapi lama kelamaan, Ah Lin merasa bahwa keberadaan sang papa dan mama yang sangat kampung (an) ini mengganggu kehidupan pribadinya.
Jadi, Ah Lin mengusahakan agar sang orang tua boleh kembali pulang ke desa.
Ia bersedia keluarkan dana tak terbatas.
" Papa mama mau rumah besar di desa? Ah Lin belikan.
Pembantu laki dan perempuan ? Okei.
Sawah ber li - li ? Soal gampang.
Emas ber kati kati sebagai deposito untuk jaminan masa tua...no problem."
( Omong "no problem" nya dalam bahasa mereka atuh, kalau karakternya di tulis di sini, Anda semua tak mengerti...)
Ayah dan ibu tidak mau.
Mereka merasa nyaman berada dekat puteri semata wayang.
Dan tentu lama kelamaan ini jadi masalah amat besar.
Ah Lin ingin papa mama check out....Papa mama ingin tinggal sama puteri mereka.
Suatu hari Ah Lin ambil tindakan nekad.
Ia melaporkan kasus ini pada Jaksa negeri yang terkenal sangat adil, namanya Jaksa Bao.
Pengadilanpun di gelar.
Argumen Ah Lin : "Dari jaman dahulu, merupakan tugas kewajiban orang tua besarkan anak
Sekolahkan, kasih makan, dan seterusnya.....Tidak pernah ada kaidah yang menyatakan bahwa anak harus pelihara orang tua......SEKALIPUN DEMIKIAN....." katanya ber api api , " Aku bersedia bayar
semua ganti kerugian yang sudah mereka lakukan.
Katakan saja berapa kati emas...... yang penting aku mau PUTUS HUBUNGAN! "
Kedua orang tua tertunduk sedih.
Air mata menetes satu satu.....
Jaksa Bao memandang dengan simpati dan belas kasihan
Kemudian katanya pelan kepada sang anak : " Sdri Ah Lin, kau bersedia bayar semua kerugian orang tua mu, tunai ?"
Ah Lin mengangguk semangat " Sebut saja jumlahnya pak Jaksa....sebut saja....Semua yang sudah
papa mama keluarkan untuk aku, aku bayar tunai.....Yang penting aku PUTUS HUBUNGAN....dengan mereka."
Sekarang pak Jaksa tanya pada sang mama :
" Nyonya, ingat, bilamana anak Anda lahir, berapa panjangnya dan berapa beratnya ?"
Sang bunda dengan sedih menceritakan tanggal lahir sang puteri. Di kandung 9 bulan 10 hari.
" Panjangnya 50 centimeter...dan beratnya persis 3 kilogram..."
Jaksa Bao diam memandang dengan bijaksana.
" Tiga kilogram......Tiga kilogram.....
Dari kandunganmu...lahir sebagian tubuh nyonya seberat tiga kilogram....Ah rasanya cukup adil kalau Ah Lin sang pendakwa mengembalikan tiga kilogram saja......"
Ah Lin senang. 3 kilogram emas sih soal kecillllll
Jaksa Bao melanjutkan.
" Tiga kilogram dari tubuh nyonya....harus dikembalikan Ah Lin......Panggil Algojo! " hardiknya
Semua terkejut.
Algojo datang.
" Ah Lin harus kembalikan tiga kilogram dari tubuhnya pada sang mama....Algojo, potong sedikit telinganya si Ah Lin , potong sedikit hidung, mata nya, dada , perut , tangannya, isi perut, hati dan jantungnya...
potong semua sejumlah tiga kilogram...Tak usah potong giginya, karena Ah Lin lahir belum bergigi...
kemudian berikan semua potongan seberat tiga kilogram pada sang mama...."
Palu di ketuk....
Ah Lin terpucat pucat...jatuhkan diri berlutut...minta ampun dan menyatakan mencabut semua tuduhan......
Kisah bagus ya,
Tidak semua di dunia ini bisa di nilai dengan materi.
(Terima kasih pada pak Nana Widjaja.)