Untitled Document
 Home
 Visi & Misi
 Sejarah / History
 Organisasi
 Service / Pelayanan
 Gereja - Gereja Cabang
 Departemen Misi
 News & Berita
 Hubungi Kami
 Kesaksian
 Photos
 Khotbah Gembala
 Ruang Kesehatan
Raksaksa

Sehabis makan malam, kakek akan duduk di ruang keluarga
dikelilingi cucu - cucunya minta di ceritakan kisah seru
seru. " Ayo kek, cerita yang ramai "
Sang kakek tersenyum. " Cerita tentang apa?"
" Tentang raksaksa..."
 
Suaranya jadi lembut, dan kakek mulai berkisah:
" Suatu hari, ada seorang anak yang mengajak ayahnya
menonton barisan pawai di kota.

Sang ayah ingat, bahwa semasa kanak - kanak, ia juga
suka di ajak ayahnya nonton pawai. Jadi ayah setuju "
Keesokan harinya mereka ke jalan utama di kota itu.
Orang orang sudah berkumpul sejajar tepi jalan.
Banyak nian.
Bentuknya berlapis -lapis, seperti tembok tebal.

Sang ayah mengangkat anaknya dan duduk di atas bahunya.
Sang anak duduk di kelas satu. Ia bisa melihat dengan
jelas jalannya pawai tadi.
Ia mulai menatap keliling dan menikmati acara demi acara.

Dalam waktu singkat si anak mengerti, kalau tidak semua
orang berkesempatan melihat pawai dengan cara yang begitu
nikmat. Ada orang yang jinjit jinjit. Ada yang usaha melongok
kan kepala mengatasi massa , bahkan ada juga yang melompat
lompat.
Anak ini mulai merasa sedikit pongah.
Tidak semua bisa melihat sebagaimana ia menikmati pawai
tersebut. Ia mulai mentertawakan beberapa anak lain
yang celinguk celinguk mencari celah , sekedar mengintip
suasana yang begitu meriah.
Bahkan kepada sang ayah ia berkata : " Kalau saja
ayah bisa melihat, apa yang aku lihat..."

Kakek kemudian menatap wajah cucu cucunya.
Ia berkata pelan. " Anak itu tidak melihat, alasan mengapa
ia bisa melihat begitu enak dan nyaman.....

Kakek berhenti bercerita.
Anak anak protes. " Kok selesai.....? Kami pikir kakek
akan cerita tentang raksaksa......"
Kakek tersenyum.
" Sudah....kakek sudah bercerita tentang seorang anak
yang sebetulnya bisa jadi raksaksa."

Cucu cucu tak mengerti.
" Maksud kakek...?  Bagaimana bisa dia jadi raksaksa..."
Mereka bertanya ramai ramai.

" Raksaksa " , kata kakek pelan, " Adalah seorang yang
selalu ingat, bahwa dia sedang duduk di atas bahu orang
lain...."

Anak anak bertanya lagi : " Apa yang membuat kita tidak bisa
ingat ?"

kakek menjawab lembut : " Kamu tidak bisa ingat , karena
kamu tidak membayangkan dan ingat betapa kamu jadi  beban berat yang dipikul orang yang dukung engkau...."



[Kembali]
(c) 2004 Gereja Sidang Jemaat Allah Batu Tulis All Rights Reserved