Untitled Document
 Home
 Visi & Misi
 Sejarah / History
 Organisasi
 Service / Pelayanan
 Gereja - Gereja Cabang
 Rubrik Kesehatan
 Departemen Misi
 News & Berita
 Hubungi Kami
 Kesaksian
 Photos
 Khotbah Gembala
Telur kosong

Sejak kecil, Bobon menderita keterlambatan mental. Artinya,
IQnya lebih rendah dari anak anak seusianya.
Disamping gangguan psikis ini, ia juga mengidap beberapa
penyakit. Dan ketika duduk dikelas II SD, keluarganya
ragu , apakah ia tetap bisa duduk di bangku sekolah.

Mereka mengirim Bobon ke sekolah dasar umum, jadi bukan
sekolah luar biasa. Disitu teman temannya anak anak normal,
dan lazim buat anak kecil untuk mengatakan sesuatu sekalipun
kata kata itu menyakitkan.
Pelan - pelan anak anak bisa melihat bahwa Bobon "aneh"

Pada masa Paskah, guru mengajak anak membuat telur
yang kosong, yang harus diisi sesuatu.
"Isilah sesuatu yang mewakili kehidupan" kata sang guru.
Sesudah libur Paskah, anak anak membawa hasil karyanya.

Anak pertama membawa telur yang diisi bunga.
Seluruh kelas bersorak sorai....bunga yang hidup....

Anak kedua membawa telur berisi batu.
Seluruh kelas protes.
Bukankah batu tidak hidup?
Tapi anak itu bersikeras, sebab di atas batu tumbuh
lelumutan.
Bukankah lelumutan hidup? demikian kilahnya.
Jadi anak ini dapat angka bagus juga.

Anak selanjutnya membawa semut dalam telur.
Inipun diberi nilai tinggi.
Semut hidup bukan ?

Pada giliran Bobon, ia maju dengan semangat.
Guru agak was was, kawatir kelas mentertawakannya.

Bobon membawa sebutir telur.
Tatkala dibuka....kosong melompong.
Seluruh kelas mulai bisik bisik ramai.....
Cekikikan di sana sini....

Kemudian ibu guru dengan manis menerangkan pelan-
pelan, bahwa murid murid harus mengisi telur kosong dengan
sesuatu yang hidup.
Dengan berseri seri Bobon berkata :
" Di dalam telur itu ada Tuhan Yesus.
Tuhan Yesus sudah bangkit dari kematian.
Dia hidup.
Inilah kubur yang kosong...."

Anak anak mengerti.
Guru mengerti.
Tidak ada protes lagi.

Tiga minggu kemudian Bobon meninggal dunia.
Tatkala penguburan , hampir seluruh kelas hadir.
Ketika orang menaruh bunga di atas pusara, anak anak
sekelas kawan kawan Bobon maju satu satu , membawa
telur kosong, yang diletakkan di atas makamnya.

Ketika orang bertanya tanya, ibu guru dengan suara
gemetar menahan haru, menceritakan kisah Bobon.
Dan anak kecil usia 8 tahun, IQ dibawah rata - rata,
sakit - sakitan, saat itu sudah tiada,
tetap bisa memberi kesaksian , bahwa Juruselamat nya
hidup.

Anda bisa juga ?

 



[Kembali]
(c) 2004 Gereja Sidang Jemaat Allah Batu Tulis All Rights Reserved