Ketika puterinya akan menikah di Gereja, ibu Edna
turut repot mengatur macam macam urusan.
Semua dikerjakan dengan hati gembira, sebab Patsy
gadisnya memilih seorang pemuda Kristen hidup baru
yang takut Tuhan.
Tentu banyak pengeluaran. Untuk menghemat, maka ibu
Edna merencanakan menghias sendiri gedung Gereja.
Beberapa kawan baiknya punya kebun bunga,
dan ibu Edna mengumpulkan sejenis bunga yang bernama
Magnolia.
Warnanya peach muda. Daunnya segar. Maklum baru datang
dari kebun.
Sesudah gladi resik di Gereja, ibu Edna bersama
beberapa kawan menghias Gereja. Tiang - tiang dipasangi
oasis, dan disanalah bunga Magnolia yang ranum ditancap.
Hampir tengah malam semuanya siap.
Ibu Edna lelah, tapi melihat betapa indahnya bunga-
bunga tersebut disegenap peloksok Gereja,
hatinya puas.
Musik sudah beres, Acara sudah diatur, dan besok pukul
11 adalah hari besar.
Sebuah pernikahan sempurna di bulan Juni. Musim panas!
Keesokan pagi-pagi Ibu Edna sudah datang ke Gereja.
Ia bermaksud ikut hadir, di ruang belakang, dimana
Patsy akan di dandani oleh orang salon.
Tapi ia ingin mengintip rangkaian rangkaian bunga
Magnolianya yang kemarin menguras tenaga habis habisan.
Ia bersama kawannya membuka pintu auditorium, dan tatkala
pintu terbuka, sebuah sapuan udara panas menghantam
wajah mereka.
Hampir pingsan dilihatnya bahwa sebagian besar bunga
Magnolianya layu , sehancur hancurnya.
Rupanya sistim aircondition tidak jalan malam sebelumnya
dan udara panas musim kering menghajar semua bunga.
Layu. Hancur. Seperti arena kematian.....
Ibu Edna panik. Ia tahu waktunya tak cukup untuk meminta
kawan kawan mengiriminya bunga Magnolia dari kebun mereka.
Sang teman menengok padanya. Mukanya pucat. Bibirnya gemetar.
Katanya terbata bata : " Edna ,cari bunga Magnolia.
Aku akan lepaskan semua bunga yang layu.
Daunnya aku biarkan di sana. Kau cari bunga Magnolia baru
dan kita ganti cepat."
Cari bunga Magnolia dimana ?
Ibu Edna memandang ke langit langit Gereja.
"Tuhan" , katanya," tolong saya.
Saya tak kenal daerah ini, dan tak punya seorang kawanpun
yang tinggal dekat dekat sini.
Tolong pertemukan saya dengan seseorang yang bisa supply bunga
Magnolia...tapi perlunya cepat nih Tuhan..."
Ia keluar Gereja dengan empat tugas.
1. ketemu sumber bunga Magnolia.
2. Yang memilikinya mau menyerahkan bunga ini. Biasanya
bunga yang ditanam di rumahan, tidak akan dipotong
oleh sang pemilik, Ya bukan ?
3. Jangan ketemu anjing . Ibu Edna takut anjing.
4. Jangan ditembak pemilik rumah, saat mengendap ngendap
masuk rumah orang....
Di kejauhan, tiba tiba tampak sebuah rumah dengan beberapa
pohon yang sarat bunga Magnolia.
Ia lari ke sana.
Tak ada anjing.
Tak ada orang keluar bawa senapan.
Ia masuk pekarangan rumah tersebut, besar dan uzur.
Seorang bapak membuka pintu pada deringan bel ke 8.
Lama amat sih !
Ia mendengar dengan tekun. Kemudian katanya singkat :
" Silakan ambil. aku bantu kau petik"
Bapak tua itu ambil tangga. Gunting besar, kemudian dengan
semangat 45 ikut memetiki rumpun rumpun bunga Magnolia...
beberapa menit kemudian, mobil ibu Edna sudah penuh bunga.
"Tuan, Anda sudah menolong ibu dari mempelai perempuan " ,
katanya lirih.
Pak tua itu memandang padanya dengan mata nanar.
" Tidak nyonya...Anda tidak mengerti apa yang sudah terjadi
di sini..."
Ia cerita singkat.
Isterinya usia 67 tahun meninggal dunia hari Senin.
Selasa acara penghiburan di rumah duka.
Rabu dikubur.
Matanya berkaca kaca.
" Kamis, semua sanak keluarga pulang ke rumah tangga
mereka, meninggalkan aku seorang diri.
Jumat - kemarin, anak anakku pulang juga ke rumah mereka.
Ibu Edna mendengarkan....
" Pagi ini, saya duduk menangisi nasib.
Saya begitu kesepian.
Selama 16 tahun isteri saya sakit-sakitan.
Ia butuhkan saya.tapi tadi pagi saya merasa begitu sedih,
tak ada orang butuh saya....
Siapa yang butuh kakek tua umur 86 tahun....
Saya menangis keras...tidak ada yang butuh saya...."
Tiba - tiba bel bunyi. Bunyi dan bunyi lagi.
Kemudian engkau ada di muka pintu, dan pertanyaanmu
nyonya : " Tuan saya butuh pertolonganmu..."
Ibu Edna berdiri mulut terbuka.
Pak tua meneteskan setitik air mata , dan tanya :"Apakah engkau
Malaikat ?"
Kemudian ia senyum.
" Waktu memotong bunga saya pikir...heei, ada yang butuh saya..
Saya bisa pakai bunga ini dalam pelayanan bunga bunga...
Orang perlu bunga ini, dan saya memiliki banyak!..
Tahu apa yang akan saya lakukan...? Saya akan melayani Tuhan
baik baik sampai dipanggil pulang "
Pada hari pernikahan puterinya, Ibu Edna melayani orang
lain. Tapi dalam waktu bersamaan, ia juga di layani.
Allah selalu punya jalan keluar.
Edna Ellison
http://tinyurl.com/ccr2ta