Untitled Document
 Home
 Visi & Misi
 Sejarah / History
 Organisasi
 Service / Pelayanan
 Gereja - Gereja Cabang
 Rubrik Kesehatan
 Departemen Misi
 News & Berita
 Hubungi Kami
 Kesaksian
 Photos
 Khotbah Gembala
Sebuah malam yang dingin

Sore tersebut adalah sore yang sangat dingin di Virginia bagian utara,
Janggut sang orang tua telah dilapisi es musim dingin selagi ia menunggu tumpangan untuk bisa menyeberangi sebuah padang dingin yang sepi.
Penantiannya seakan tak berakhir. Tubuhnya seakan mati rasa dan kaku akibat tiupan angin utara yang dingin.


Samar-samar ia mendengar detak irama teratur hentakan kaki kuda yang berlari mendekat di atas jalan  bebatuan .

Dengan gelisah ia mengawasi beberapa penunggang kuda memutari tikungan.
Ia membiarkan kuda yang pertama lewat, tanpa berusaha untuk menarik perhatian.
Lalu, satu kuda berpenunggang lewat, dan kemudian lewat satu lagi. Pak tua diam saja. Bergeming.,
Dikejauhan ada penunggang kuda yang kelihatannya merupakan yang terakhir mendekat.
Sang pria tua itu tegak seperti patung salju.

Saat yang satu ini mendekat, pak tua memandang tepat kemata si penunggang kuda terakhir,
Kemudian ia berkata lemah :
"Pak, maukah Anda memberikan tumpangan pada saya yang tua ini ke seberang?
Kelihatannya tak mungkin melewati padang itu berjalan kaki."

si penunggang menjawab segera loh , "Oke , Naiklah."

Bapak tua tak mampu mengangkat tubuhnya yang setengah membeku dari atas tanah,
si penunggang kudapun turun dan menolongnya naik ke atas kuda.
Dibawanya pak tua itu bukan hanya ke seberang padang beku tadi ,
tapi terus ke tempat tujuannya, yang masih berjarak beberapa kilometer lagi.

Saat mereka mendekati pondok kecil yang kumuh milik pak tua, si penunggang kuda tak tahan mengajukan pertyanyaan : 
"Saya lihat bapak membiarkan penunggang kuda lain lewat tanpa minta tumpangan.
Saya ingin tahu mengapa  bapak mau menunggu dan diam saja, tak minta tolong
Bagaimana kalau saya menolak  ?"

Si bapak tua menurunkan tubuhnya perlahan dari kuda, memandang langsung mata si pembicara.
"Saya sudah tua dan sudah makan banyak asam garam. Rasanya saya cukup kenal dengan tabiat dan perangai orang."

Bapak tua itu melanjutkan, "Saya memandang mata penunggang yang lain,
dan langsung tahu bahwa di situ tidak ada belas kasihan.
Percuma  minta tumpangan. .....

Tapi ketika saya melihat ke mata Anda 
kebaikan hati dan rasa kasih terlihat jelas.
Jiwa Anda yang lembut menyambut kesempatan untuk memberi pertolongan pada saat seseorang membutuhkan."

Perkataan tersebut menghangatkan hati dan rupanya menghentak menusuk sanubari sang penunggang kuda dengan kuat.

"Banyak terima kasih untuk perkataan bapak", katanya terharu.
" Mudah-mudahan saya tidak akan terlalu sibuk mengurus macam macam masalah hingga bisa gagal menanggapi kebutuhan lain orang dengan kasih dan penuh perhatian."

Sambil berkata demikian, Presiden Amerika Serikat Thomas Jefferson sang penunggang kuda itu,  memutar kudanya dan melanjutkan perjalanannya menuju ke Gedung Putih.


 



[Kembali]
(c) 2004 Gereja Sidang Jemaat Allah Batu Tulis All Rights Reserved