Untitled Document
 Home
 Visi & Misi
 Sejarah / History
 Organisasi
 Service / Pelayanan
 Gereja - Gereja Cabang
 Departemen Misi
 News & Berita
 Hubungi Kami
 Kesaksian
 Photos
 Khotbah Gembala
 Ruang Kesehatan
Air es segelas

Beberapa tahun yang lalu, saya menjadi misionaris di Honduras,
dan bertugas mendirikan beberapa klinik semacam puskesmas.
Pada musim panas udara bisa sangat terik.
45 derajat Celcius merupakan hal yang biasa.
Satu hari, saya harus menyabit rumput yang ada didepan rumah
/ kantor kecil kami.
Udara amat terik, namun rumput itu sudah tinggi.
Jenisnya sejenis alang alang, daun tebal, dan tidak elok
melihatnya tak dipangkas rapih.

Saya punya mesin potong rumput manual, dan mulai berkeliling
tanah lapang itu memotong rumput.
Saya memaksa mengucap syukur, karena tetangga saya tak
punya mesin pemotong rumput.
Mereka biasanya menggunakan semacam sabit atau pisau bertangkai
panjang dan harus ayun kiri ayun kanan, buang banyak tenaga.

Saat tengah kerja diudara panas, saya lihat seorang anak
laki kecil sedang duduk menyandar di pagar rumah.
Adalah lazim peminta minta seusia anak ini kukurlingan
( keliling ) dan mengorek bak sampah.
Saya harus berterus terang, sekalipun lihat anak itu,
saya tidak mempedulikannya.

Anak itu berdiri menyenderkan separuh tubuhnya ke pagar.
Tubuhnya telanjang, dan ia memakai celana kedodoran.
Tubuh saya juga tak keruan, serpihan rumput menempel di
mana mana. Masih banyak yang harus saya perbuat,
udara luar biasa panas....jadi anak itu saya acuhkan.

Kemudian saatnya istirahat.
Saya menghampiri tempat anak itu berdiri, dan kemudian
duduk di dekatnya.
Ia memandang saya dengan wajah kecilnya,
kemudian berkata dalam bahasa Spanyol :
Papa , ( artinya bapak ) bolehkah saya dapat segelas air?

Seketika itu juga menyeruak masuk ayat dalam Matius 10 : 42
 Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun
kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku,
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan
kehilangan upahnya dari padanya.

Inilah saya.
Misionaris.
Berdiri di ladang misi.
Tapi sejenak, saya lupa tugasku.

Saya masuk ke dalam, ambil gelas yang baik ( bukan gelas
kertas sederhana ) isi es batu, isi air, kemudian bergegas
menemui anak itu dan memberikannya.

Ia senyum amat lebar, dan berkata
" Terima kasih, dan Tuhan memberkatimu Papa "

Bukan, saya bukan pastor Katolik.
Tapi ia memberikan saya penghormatan tertinggi

Saya tetap jadi misionaris.
Tapi sejak hari dimana saya memberikan segelas air
kepada anak itu, cara pandang saya berubah total.

Tim McGill
Walker Baptist Medical Centre.
Allabama. USA



[Kembali]
(c) 2004 Gereja Sidang Jemaat Allah Batu Tulis All Rights Reserved