Untitled Document
 Home
 Visi & Misi
 Sejarah / History
 Organisasi
 Service / Pelayanan
 Gereja - Gereja Cabang
 Departemen Misi
 News & Berita
 Hubungi Kami
 Kesaksian
 Photos
 Khotbah Gembala
 Ruang Kesehatan
Anak yang terhilang.

                          Anak Yang Terhilang

Anak bungsu dari kisah Anak yang terhilang, sungguh-sungguh manusia egois, lihai dan licik. (Luk 15 : 11 – 32)  Mula-mula ia inginkan hak warisan yang – katanya – milik anak ini, yang seyogyanya dia terima saat ayahnya meninggal dunia. Menurut hukum di Indonesia, isteri mendapat 50% dan kalau anaknya dua, masing-masing 25%. Kalau tak ada isteri ya dua-duanya dapat setengah setengah. Itu diterima kalau ayahnya sudah almarhum ! Tapi ayahnya masih segar bugar loh. Kurang ajar ya?
 Kemudian ia melalang buana. Dugem siang malam, foya-foya, dan uangnya habis! Teman-temannya kabur semua, ia ada di negeri asing, tanpa uang sepeserpun. Dalam keadaan hancur dan melarat, ia bekerja sebagai penjaga babi, namun kelaparan terus. Di Lukas 15:7 Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Perhatikan bahwa yang pertama ia ingat BUKAN Bapanya, tapi keadaannya yang berantakan dan nelang-sa. Egois kan ?
Nah, anak inipun pulang kampung.
 Saat itu ada tiga jenis hamba. Yang bekerja jam–jam-an, dan dibayar sesuai lama bekerja. Hamba jenis kedua, namanya “orang upahan”, mereka bekerja penuh waktu tapi punya rumah sendiri di tempat lain. Sekali- sekali mereka akan ambil cuti, kemudian pulang ke rumah sendiri. Jenis ketiga nama-nya Hamba semacam budak, yang seluruh hidupnya didedikasikan pada tuannya. Nah, si anak ini cukup licik, dan memilih untuk jadi “orang upahan”, maksudnya, sekalipun nanti ia bekerja sebagai hamba di tempat ayahnya, ia masih punya kemerdekaan, dan sekali- sekali bisa menikmati hidup bebasnya. Waduh… parah ya….!
 Kadang-kadang, kita menghampiri Allah dengan pendekatan sama loh! Banyak perhitungan untung rugi, bahkan prinsip : “Saya layani Tuhan, tapi jangan ambil selu-ruh kebebasanku…”  Kelihatannya hitung- hitungan seperti ini menguntungkan dan aman- aman buat kita, tapi Rencana dan Rancangan Bapa pasti jauuuuh lebih indah dan lebih baiiik !!  Sama seperti Bapa di kisah di atas, IA berbelas kasihan, memeluk, mencium, dan menerima si pendosa sebagai anggota keluarga !! Tidak ada perhitungan lain selain  sungguh-sungguh berserah dan melayani
DIA !! (OH)
                           

                            



[Kembali]
(c) 2004 Gereja Sidang Jemaat Allah Batu Tulis All Rights Reserved